Sengsara Membawa Berkah

Ilustrasi mobil yang tertabrak
Ilustrasi mobil yang tertabrak

Sore itu terasa begitu berat, tubuh yang lelah dan letih karena semalam begadang menunggu anak yang sedang berbaring sakit, seperti tak kuasa untuk diajak terjaga. Sejak kemaren sore, anak ketiga ku harus dibawa kerumah sakit, karena mutah dan diare yang tidak kunjung sembuh, anak usia 1 tahun itu terlihat sangat pucat, tidak biasanya gerak enerjiknya berubah lemah dan layu, tatapan matanya menjadi sendu, akhirnya selang infus yang begitu menyakitkan harus juga dipasang.

Sore itu, pertama kalinya si-kecil harus berada dirumah sakit, bukan untuk menjenguk tapi untuk berobat, sesuatu yang begitu sangat menyakitkan adalah saat-saat dimana jarum infus itu harus ditancapkan ditangan mungilnya, hati ini terasa ngilu, sakit, namun semua ini juga untuk kebaikan si-kecil, akhirnya tangisnya makin pecah membisingkan ruang IGD yang awalnya tenang, "menangislah anakku... menangislah, ayah sebenarnya juga tak kuasa untuk membuatmu menangis", lirihku dalam hati, seraya menahan air mata ini.

Hingga sore ini, aku harus pulang dulu untuk mengambil pakaian pengganti baik untuk si-kecil maupun buat umi dan aku sendiri yang harus menjaganya, saat awal berangkat ke Rumah Sakit memang kedua kakak si-kecil tidak dibawa, nah saat ada kesempatan untuk menjenguk sambil membawa barang-barang yang diperlukan kedua anak pertama dan kedua ku ini ikut serta.

Hingga saat diperjalanan dijalur sepi yang sengaja kupilih, tiba-tiba saat ku pelankan mobil station merek suzuki itu, "Praaakkkk.... duukkk!!!", ada truk bermuatan penuh pasir menabrak bagian belakang mobilku, dan secara otomatis mobilku yang berhenti ditengah karena ada mobil didepan yang akan belok kekanan ini mendorong gerobak roda tiga. Untungnya tiada korban berarti, hanya anak-anakku yang setengah tertidur jatuh dan akhirnya tejaga.

Waduh, pikirku dalam hati, "ini pasti kena bamper belakang"Ternyata dugaanku tidak meleset, segera ku cek kebelakang, ternyata truk itu sudah menabrak tepat di bamper mobil belakang, akhirnya bamper yang terbuat dari fiber hancur tak tersisa, lalu bodi kiri robek, untungnya tangki bensin tidak rusak, tapi sempat rinsek juga dibagian bagasi belakang, belum lagi body depan yang menabrak box motor roda tiga, tampak ringsek kedalam, walau tidak terlalu parah, namun cukup membuat penampilan menjadi tidak nyaman lagi.

"Bagaimana ini mas?", tanyaku kepada sopir truk yang terlihat masih muda, yang ditanya bukannya minta maaf malah menuduh saya ngerem mendadak, "Loh, tidak ada yang mendadak, tadi didepan motor roda tiga itu ada truk juga yang belok kanan, otomatis, kendaraan dibelakangnya mengurangi kecepatan bahkan berhenti, saya sendiri berhentinya secara bertahap", kataku semakin jengkel.

"Iya pak, bagaimana enaknya dah, saya terburu-buru segera mau mengantarkan pasir ini pak, antaran terakhir", katanya mulai mengalah.

"Gini saja dah, kita selesaikan kekeluargaan,mana SIM mu?", tanyaku lagi. 

"Kalau SIM saya dibawa saya tidak bisa kerja pak", katanya sopir itu lagi dengan sedikit memelas.

"Hmmm... gini wis, KTP mu saja dah, saya bawa dulu, nanti kamu pikirkan selanjutnya bagaimana penyelesaian yang terbaik, dan nomor telponmu juga berapa?". tanyaku lagi.

"Ini pak, dan nomor hp saya, nanti silahkan dihubungi, karena saya sedang tidak punya pulsa pak, kita selesaikan dengan sebaik-baiknya saja, saya siap tanggung jawab pak", kataya lagi.

"Oke, simpan nomor hp saya, saya ini juga sedang perjalanan ke Rumah Sakit, anak  ketiga saya sekarang opname mas, kalau kamu tidak percaya bisa dateng sendiri nanti malam di kamar ini", kataku lagi dengan sedikit meninggi.

Malam itu iseng saya coba sms nomor sopir itu, namun selang 15 menit belum juga dibalas, mungkin pulsanya benar-benar habis, akhirnya setelah ditelpon, disepakati jika esok harinya bertemu di bengkel kenteng yang ditentukan oleh sopir itu.

Dan begitu sampai dibengkel kenteng, diperoleh harga untuk perbaikan total Rp 3.500.000,- (Tiga Juta Lima Ratus Ribu Rupiah), selanjutnya setelah musyawarah disepakati, saya membantu Rp 1.500.000,- sedangkan sopir truk yang menabrak itu dibebankan sebesar Rp 2.000.000,-. biaya yang tidak sedikit, namun melihat kondisi sopir yang memang tidak lebih baik kehidupannya, saya lama-lama merasa iba juga, sudahlah harga dan pembagian tanggungan saya sepakati, toh semua untuk kebaikan mobil saya sendiri.

"Terima kasih pak sudah bisa memahami, saya tetap akan tanggung jawab, saya masih ada motor butut yang jika dijual mungkin masih laku 2 jtan, namun kalau kondisi mendesak saya juga tidak tahu laku berapa, nanti saya hubungi lagi secepatnya jenengan pak", kata sopir itu sambil mengiba.

Dua hari kemudian dari pertemuan di bengkel kenteng mobil telah disepakati untuk pembayaran yang Rp 2.000.000,- pertemuan diatur sore hari setelah sang sopir selesai melaksanakan tugasnya.

Namun dalam hati saya, tiba-tiba terbesit rasa iba kepada sopir itu, dengan sungguh-sungguh walaupun masih usia muda (sekitar 25 tahun) sopir itu berusaha untuk memenuhi dan bertanggung jawab atas perbuatannya, padahal jika dihitung, berapa gajinya sehari? berapa gajinya sebulan? apakah cukup? "ah, bisa jadi aku yang mendholiminya? tidak sepantasnya... ", pikirku.

Sekitar 10 menit berlalu saya menunggunya dipertigaan dekat warung bakso, namun waktu terasa lama, perasaan makin tidak karuang, sifat manusia yang mulai curiga muncul, "Apa mungkin sopir muda itu akan menipu?".

Belum pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba dari arah timur sopir itu datang diantar motor temannya, "Maaf pak sudah lama menunggu, saya masih harus membersihkan truk dan memarkirnya di rumah juragan, setelah itu baru mengambil uang dari hasil penjualan motor saya", katanya dengan mata penuh harap, "Tapi..., maaf pak, belum sepenuhnya tanggungan saya penuhi, ternyata motor saya hanya laku 1,7 Jt jadi saya masih punya uang segitu, mohon bapak bisa memaklumi, beberapa hari lagi saya akan penuhi sisanya", katanya lagi berusaha menjelaskan.

"Iya sudah, sini saya hitung dulu", pintaku. Sambil benar-benar ku hitung uangnya, dan ku pastikan benar-benar uang asli, sesekali ku lirik wajah dari sopir muda itu, pandangan matanya, gerak gerik tubuhnya, walaupun aku tak bisa memahami bahasa tubuh, namun ku coba tafsirkan sendiri, isyarat dari tatapan matanya, ingin memastikan bahwa sopir muda ini tidak berbohong, itu cukup.

"Ya, ini pas 1,7 Juta, tapi yang saya bawa 1,5 juta, ini 200.000 untuk kamu dan keluargamu ya?", kataku dengan berbinar.

Seakan tak percaya, sopir muda itu sedikit tertegun dan berkata, "lalu sisanya bagaimana pak?".

"Loh kan sudah saya sampaikan tadi, tidak ada sisanya, sudah yang kamu berikan ini sudah cukup, tidak ada lagi utangmu kepadaku, yang penting sekarang kita bisa menjadi teman saudara atau apalah, serta melupakan kejadian ini ya?", kataku lagi.

"Pak, cek pelak kah sampeyan (pak, anda sangat perhatian)", kata sopir muda itu seraya menyalami dan mencium tangan ku dengan penuh lega dan suka cita.

"Pokoknya mulai sekarang hati-hati kalau nyopir ya? sehingga gak terulang lagi, jangan lupa sholatnya", kataku sambil berpamitan.

"Enggi kak (iya kak)", jawabnya dengan mata berbinar-binar.

Begitu ku genjot motorku untuk pulnag, tiba-tiba tidak terasa air mata ini meleleh, tidak... tidak...., ini bukan soal uang yang harus saya potong dari tanggungan yang disepakati, namun ku dapati hikmah yang sangat mendalam, ternyata masih ada didunia yang penuh materialistik ini, anak muda, pendidikan pasti rendah, pekerjaan sebagai sopir truk, dan tentunya bukan dari anak keluarga berada, tapi masih memiliki kejujuran, dan tanggung jawab tinggi terhadap apa yang terjadi karena perbuatannya.

Saat kejadian bisa jadi sopir muda itu melarikan diri, setelah kejadian bisa jadi sopir muda itu menghilangkan nomor hpnya atau jejaknya, bahkan setelah ada kesepakatan untuk memperbaiki mobil di bengkelpun, bisa jadi dengan berbagai alasan dia beri tangguhan hingga waktu yang tidak pasti. Hingga aku pun bosa menagih, atau akupun lelah untuk memburunya, bisa saja, bisa saja semua itu terjadi.

Namun....., semua itu tidak dilakukannya, semua masalah itu dihadapinya, semua beban di tanggungnya dengan ksatria, walaupun belum penuh diberikan, setidaknya waktu kesepakatan tidak dilanggarnya, ditepati, luaar biasaa!

"Yaa... Allah, ampunilah hamba-MU yang lemah ini, dan limpahkanlah rizki-MU yang halal dan barokah kepada sopir muda tadi yang begitu banyak memberi hikmah kepada hamba, Aamiin", kataku dalam hati saat perjalanan mengendarai motor pulang kerumah. 

Sekitar sebulan setelah kejadian diatas, mobil yang sempat penyok dan ringsek itu telah kembali mulus, bahkan kata teman-temanku kini tampilan mobil tua itu makin menarik dipandang, karena bahan yang sebelumnya terbuat dari fiber itu kini diganti dari seng yang lebih halus dan rapi pengerjaannya, harga yang sangat pantas dibayarkan dengan kualitas pekerjaannya.

Kemudian tiba-tiba teman seorganisasi yang biasa beraktivitas menelponku, "Katanya mobilmu sempat tabrakan? gimana kondisimu, sorry baru tahu aku bro", tanyanya.

"Gak masalah, sudah sebulan yang lalu kok, sekarang sudah kinclong kembali", jawabku.

"Kamu gimana? penumpang lainnya juga? kok tidak ada kabar selama ini?, Sorry saya sek sering keluar kota jadi jarang mengikuti perkembang", tanyanya lagi.

"Yaa itu, karena saya dan penumpang yang kebetulan anak-anakku baik-baik saja, saya anggap tidak ada masalah, cuma body belakang yang ringsek dan depan yang sempat penyok dikit", kataku lagi.

"Yo, Alhamdulillah klo begitu, sekarang mobilnya bagaimana bro?", tanyanya.

"Nih coba saya kirimkan foto mobilnya via WA saat kejadian dan setelah selesai perbaikan", jawabku singkat.

"Wuuiiih parah ya?, tapi sak iki dadi baguuuss gitu? lebih kinclong lagi", kata temanku dari handphone.

"Yaa, kata banyak orang begitu, makin terlihat lebih bagus, itu yang awalnya fiber kini diganti seng seperti body-nya bro", kataku menjelaskan.

"Ya, tambah bagus tampilannya, by the way mau gak dituker dengan mobil citycar milik sepupuku?", tanyanya meyakinkan, "mobilmu itu enak buat angkut barang jualan bro".

"Saya ya pasti mau pak, tapi kan kalo tuker tambah mau tambah berapa? saya belum ada uang, kemaren untuk perbaikan ini saja habis sekitar 3,5 juta", jawabku lagi.

"Ya gak usah nambah broo, namanya ditukar, mobil citycar itu untukmu, mobilku tak berikan ke sepupuku untuk belajar bisnis, jadi ditukar saja, kebetulan saya dapet rejeki ini, tapi butuh armada, saya inget mobilmu itu, jadi gimana? Daripada saya beli mobil baru, juga gak jelas kualitasnya", tanyanya.

"Ya, deal wis, Alhamdulillah", jawabku penuh haru.

Dengan penuh syukur kepada Allah SWT, seakan tidak percaya, mobil tua yang bahkan baru saja mengalami kecelakaan menyebabkan body ringsek, malah ingin dimiliki temanku untuk menambah armada bisnisnya. Memang kondisi mobilku itu masih termasuk "istimewa" untuk mobil seusianya, tapi jika dibandingkan dengan mobil Citycar milik sepupu temanku itu, selisih 10 tahun, tentu harga dan kenyamanannya jauh berbeda.

Milikku, belum power sterring, tidak ada AC, pintu dan kaca mobil yang juga masih manual, sedangkan Citycar itu sudah ber-AC, power sterring, dan central lock, tahunnya juga lebih muda, barangnya sebenarnya juga masih istimewa, Alhamdulillah yaa Allah, Engkau beri kemudahan kepada hamba untuk memiliki mobil yang lebih baru, tanpa harus membelinya, semua ini hanya atas Karunia-MU, Aamiin.

Kisah diatas adalah kisah nyata yang diceritakan oleh salah seorang donatur Lazismujember.org, dan selanjutnya ditulis kembali oleh redaksi dengan bahasa yang berbeda namun substansi sama, dan apabila ada kejadian atau nama yang serupa, bisa jadi hanya kebetulan belaka.

ANDA INGIN BERSEDEKAH KISAH NYATA?
Silahkan kirimkan KISAH ANDA dengan Tema: "DAHSYATNYA MEMBERI untuk NEGERI" 


melalui: 
Email: lazismujember01@gmail.com 
atau WA: 081232000995


======================================================================
Mari BERSINERGI, BERBAGI bersama KAMI


Donasi bisa disampaikan langsung ke kantor Lazismu Jember, Jl. Bondoyudo No.11 Jember ataupun Transfer ke:

Bank Syariah Mandiri (BSM) Jember
Norek: 7011737368 (Zakat)
Norek: 7011737352 (Infaq)
Norek: 7011867671 (Kemanusiaan) 
an. Lazismu Jember


Bagi yang telah Transfer bisa Silahkan konfirmasi ke HOTLINE LAZISMU JEMBER melalui: SmS/WA ke: 081232000995, Telp: 0331-484785.

Untuk Layanan Jemput Donasi (Seputaran Jember Kota):
Ghifar: 0821-4172-1226
Sutarman: 0822-3014-3354, WA: 089650620432
Agus: 0812-3179-8356
Dedi: 0822-5777-3188
Rodi: 0822-3467-8055
Irul: 0852-5880-5309
Sengsara Membawa Berkah Sengsara Membawa Berkah Reviewed by LAZISMU Jember on 15.07.00 Rating: 5